Selasa, 14 Mei 2013 | |

Psikologi Masa Remaja

Remaja berasal dari kata latin adolensence yang  berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai  arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional  sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. 
Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa  remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang  mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12  tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22  tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah:
“Masa peralihan  diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan  psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara  berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah  matang”.
Hal senada diungkapkan oleh Santrock  (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi  antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis,  kognitif, dan sosial-emosional.
Batasan  usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.  Rentang waktu usia remaja ini  biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remajaawal, 15 – 18 tahun = masa  remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remajaakhir.  Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa  remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006:  192)
Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini  & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan  bahwa masa remaja adalah masa  peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia  antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan  baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.
            Dari beberapa definisi tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa remaja dan masa remaja adalah seorang yang berumur 12-22 tahun yang sedang megalami proses peralihan dari masa anak-anak yang terus mengalami masa perkembang sampai dewasa.
Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu:
1.      Perkembangan Fisik. Perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds,2001).
2.      Perkembangan kognitif Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
3.      Perkembangan kepribadian dan social. Perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik, sedangkan perkembangan social berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001).
Masa ini juga dikatakan masa pancaroba karena pada masa itu seseorang mencari jati diri, kebenaran, dan hal-hal baru yang belum pernah di alami maupun di lewati baik secara fisik maupun mental.
            Kematangan dan perkembangan seorang remaja sering kali terpengaruhi oleh banyaknya masalah yang dihadapi baik secara internal maupun eksternal. Masalah-masalah tersebut mulai dari keinginan untuk pacaran, sakit hati, kurang percaya diri, merasa tidak puas dengan apa yang ada, ego yang tinggi, pergaulan bebas dan sebagainya. Hal inilah yang paling mendominasi dan menjadi hot topic di kalangan para remaja.
            Kompleksitas masalah tersebutlah yang harus selalu di waspadai dan harus diarahkan sejak dini, karena jika permasalahan dan proses tersebut dapat dilalui dengan baik maka kebaikanlah yang akan terbentuk, namun pembentukan tingkah laku yang over, rasa ingin tahu dan penasaran yang tinggi tanpa arah justru akan menjadi sesuatu yang sangat menghambat bahkan merusak masa depan seorang remaja baik secara fisik maupun psikologis.
Dari uraian tersebut diatas terlihat jelas bagaimana sosok remaja membutuhkan panduan dalam pembentukan fisik maupun psikologinya. Karena jika dimasa ini seseorang tidak berhasil atau gagal dalam pembentukan dirinya maka hanya penyesalan dan kerusakan yang terus akan di rasakan seorang pemuda.
Berkaitan dengan hal ini penulis yang juga masih dalam masa remaja merasakan bahwa pendidikan psikologi atau ilmu-ilmu yang terdapat dan di bahas dalam kajian psikologi sangat amat membantu remaja terutama penulis sendiri dalam membentuk perilaku dan kepribadian baik secara fisik maupun mental. Hal ini sangat terbukti ketika penulis pertama kali mengenal dan memahami teori-teori dalam psikologi, mulai dari psikoanalisanya Freud sampai teori psikologi kognitif yang sangat berkenaan dengan pembentukan perilaku dan sikap yang biasa dijadikan acuan bagi penulis.
Pembahasan tentang perkembangan remaja berkaitan dengan teori utama dari para tokoh-tokoh psikologi, yaitu psikoanalisa, kognitif, belajar social dan tigkah laku, serta ekologi. Ketika suatu teori nampaknya mampu menjelaskan perkembangan remaja dengan tepat. Perkembangan remaja bersifat kompleks dan mempunyai banyak sisi. Walaupun tidak ada satu teori pun yang menjelaskan semua aspek perkembangan remaja, setiap teori telah memberikan sumbangan pada pemahaman tentang perkembanga remaja ini. Secara keseluruhan, bermacam-macam teori membantu untuk dapat dijadikan pegangan dalam pembentukan sikap dan perilaku remaja khususnya penulis:
1.      Teori Psikoanalisa
Ahli teori psikoanalitik menegaskan bahwa pengalaman pada masa dini dengan orang tua akan sangat membentuk perkembangan. Ciri-ciri tersebut dipelajari dalam teori psikoanalisa yang utama, yaitu dari Sigmund Freud. Freud mengatakan bahwa kepribadian memiliki tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah struktur dari Freud tentang kepribadian yang terdiri dari dari naluri, yang merupakan sumber energy psikis seseorang. Ego adalah struktur kepribadian yang berfungsi meghadapi tuntutan realitas yang dikemukakan Freud. Superego adalah struktur kepribadian dari Freud yang merupakan cabang moral dari kepribadian.
Dari teori besar Freud yaitu id, ego, dan superego, Freud percaya bahwa dipenuhi oleh ketegangan dan konflik. Untuk mengurangi ketegangan ini, remaja menyimpan informasi dalam pikiran tidak sadar mereka. Ia juga mengatakan bahwa tingkah laku yang sekecil apapun mempunyai makna khusus bila kekuatan tidak sadar di balik tingkah laku tersebut ditampilkan.
Cara ego mengatasi konflik antara tuntutannya untuk realitas, keinginan id dan kekangan dari superego yaitu dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defense mechanisme), artinya istilah psikoanalisa ini untuk metode yang tidak disadari ego merusak realitas dan karena itu melindungi dirinya dari rasa cemas. Menurut Freud tahap permulaan dari perkembangan kepribadian, adalah sebgai berikut :
·  Tahap oral (oral stage) adalah perkembangan yang terjadi pada usia 18 bulan pertama, dimana kesenangan bayi berpusat di sekitar mulut.
·  Tahap anal (anal stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 1,5 dan 3 tahun, di mana kesenangan terbesar anak meliputi anus atau fungsi pembuangan yang berhubungan dengan anus.
· Tahap falik (phallic stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 3 sampai 6 tahun, kata phallus artinya penis atau alat kelamin laki-laki. Artinya kesenangan berpusat pada alat kelamin karena anak menemukan bahwa memanipulasi diri sendiri memberikan kesenangan.
· Tahap latensi (latency stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi antara usia 6 tahun dan pubertas, anak menekan semua minat seksual dan mengembangkan keterampilan inteletual dan social.
· Tahap genital (genital stage) adalah tahap perkembangan yang terjadi pada masa pubertas. Pada masa ini adalah masa kebangkitan kembali dorongan seksual, sumber kesenangan seksual yang adalah dari orang lain yang bukan keluarganya.  
Erikson mengatakan bahwa manusia berkembang dalam tahap psikososial, yang berbeda dari tahap psikoseksual perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sedangkan Freud beragumen bahwa kepribadian dasar manusia terbentuk selama 5 tahun pertama kehidupan.
Menurut Erikson semakin berhasil individu mengatasi konflik, maka semakin sehat perkembangan individu tersebut. Seperti pernyataannya, sebagai berikut :
·  Percaya versus tidak percaya (trush versus mistrush) adalah tahap psikososial Erikson yang dialami dalam tahun pertaa kehidupan. Rasa percaya tumbuh dari adanya perasaan akan kenyamanan fisik dan rendahnya rasa ketakutan serta kecemasan tentang masa depan.
·  Otonomi versus malu dan ragu-ragu (autonomy versus shame and doubt) adalah tahap perkembangan yang terjadi pada akhir masa bayi dan “toddler” (usia 1-3 tahun).
·  Inisiatif versus rasa bersalah (initiative versus guilt) adalah tahap perkembangan yang terjadi selama masa persekolahan.
· Industri versus perasaan rendah diri (industry versus inferiority) adalah tahap perkembangan yang tejadi kira-kira pada usia sekolah dasar.
· Identitas versus kekacauan identitas (identity versus identity confusion) adalah tahap perkembangan yang dialami individu selama masa remaja. Pada masa ini individu diharapkan pada pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya apa, dan kemana mereka menuju dalam kehiupannya.
· Intimasi versus isolasi (intimacy versus isolation) adalah tahap perkembangan yang dialami individu selama masa dewasa awal. Pada masa ini individu menghadapi tugas perkembangan untuk membentuk hubungan intim dengan orang lain.
· Generativitas versus stagnasi (generativity versus stagnation) adalah tahap perkembangan yang dialami individu pada masa dewasa tengah.
· Integritas versus rasa putus asah (intregity versus despair) adalah tahap perkembangan yang dialami individu pada masa dewasa akhir.
2.  Teori Kognitif
Apabila teori psikoanalisa menekankan pada pentingnya pikiran remaja yang tidak disadari, maka teori-teori kognitif mementingkan pikiran-pikiran sadar mereka. Dua teori kognitif yang penting adalah teori perkembangan kognitif dan Piaget dan teori pemrosesan informasi.
Menurut teori Piaget, remaja secara aktif mengkontruksikan dunia kognitif mereka sendiri, informasi tidak hanya dicurahkan ke dalam pikiran mereka di lingkungan. Piaget juga menyatakan bahwa remaja menyesuaikan pikiran mereka dengan memasukkan gagasan-gagasan baru, karena tambahan informasi akan mengembangkan pemahaman. Empat tahapan dari Piaget adalah sebagai berikut :
· Tahap sensorimotorik (sensoriotor stage), yang berlangsung dari lahir sampai kira-kira 2 tahun. Pada tahap ini, anak mengkonstruksikan mengenai dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan fisik dan motorik.
· Tahap praoperasional (preoperational stage) adalah yang berlangsung kira-kira usia 2-7 tahun. Pada tahap ini, anak memulai mempersentasikan dunia dengan kata-kata, citra, dan gambar-gambar.
· Tahap operasional konkrit (concrete operational stage) adalah yang berlangsung dari kira-kira 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis, menggatikan pemikiran logis, menggantikan pemikiran intuitif, sepanjang penalaran dapat diaplikasikan pada contoh atau konkrit
· Tahap operasional formal (formal operational stage) adalah yang terjadi antara usia 11 dan 15 tahun. Pada tahap ini, individu bergerak melebihi dunia pengalaman yang actual dan konkrit, dan mengubah cara berpikir tentag perkembangan berpikir anak dan remaja.
3.      Teori Tingkah Laku dan Belajar Sosial
Ahli teori ini juga akan menyatakan bahwa alasan untuk rasa ketertarikan remaja terhadap satu sama lain tidak disadari, remaja tidak menyadari bagaimana warisan biologis mereka dan pengalaman hidup pada masa kecil telah berperan dalam mempengaruhi kepribadian mereka di masa remaja.
Ahli teori belajar social mengatakan bahwa bukalah robot yang tidak punya pikiran, yang berespon secara mekanis pada orang lain dalam lingkungan kita. Psikolog Amerika Bandura dan Walter Mischel adalah arsitek utama dari versi teori belajar social kontemporer yang disebut teori belajar kognitif. Bandura percaya bahwa kita belajar dengan mengamati apa yang dilakukan orang lain. Melalui belajar observasi (modeling atau imitasi), kita secara kognitif mempeesentasikan tingkah laku orang lain dan kemudian mungkin mengambil tingkah laku tersebut. Model belajar dan perkembangan yang paling mutakhir mencakup tingkah laku, manusia dan kognisi, dan lingkungan. Pendekatan belajar social menekankan pada pentingnya penelitian empiric dalam mempelajari perkembangan. Penelitian ini memfokuskan pada proses-proses yang menjelaskan perekembangan faktor social dan kognitif yang mempengaruhi menjadi manusia seperti sekarang ini.
4.      Teori Humanistik
Manusia adalah suatu ketunggalan yang mengalami, menghayati, dan pada dasarnya aktif,punya tujuan serta punya harga diri. Karena itu ,walaupun dalam peneletian  boleh saja dilakukan analisis rinci mengenai bagian-bagian dari jiwa (psyche) manusia. Namun dalam penyimpulan nya ,manusia seperti ini dinamakan pandangan holistic (whole = menyeluruh). Selain itu manusia juga harus di pandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan individualnya dan dari sudut pandang kemanusiaan nya itu sendiri. Karena itu psikologi harus masuk dalam topic-topik yang selama ini hamper tidak pernah diteliti oleh aliran-aliran behaviorisme dan psikoanaalisis , seperti cinta , kreativitas , pertumbuhan ,aktualisasi diri ,kemandirian , tanggung jawab , dan sebagainya. Pandangan seperti ini disebut pandangan humanistic
(human= manusia).
Abraham Maslow (1908-1970) berpendapat manusia mempunyai naluri-naluri dasar
yang menjadi nyata sebagai kebutuhan.
Kebutuhan tersebut adalah:
- Kebutuhan fisik/biologis
- Kebutuhan akan rasa aman
- Kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta
- Kebutuhan akan penghagaan dan harga diri
- Kebutuhan aktualisasi / perwujudan diri
- Kebutuhan estetik

1 komentar:

Poskan Komentar